-FOKER LSM Papua Mengucapkan "Selamat Hari Natal, 25 Desember 2011 dan Tahun Baru 2012."-

Content View Hits : 95194
We have 3 guests online
Papua NGOs Cooperation Forum
Jl. Yoka No 5, (Ex PT Otani IRJA) Rt.02/RW 10
Kelurahan Waena - Distrik Heram, Jayapura
Papua - Indonesia (99358)
Phone/Fax : +62 (0967) 573511, 573512
Email : office@fokerlsmpapua.net
Website : http://fokerlsmpapua.net
Home

Analisis Bulan Ini

MIFEE Masih Bermasalah Di Merauke
14/11/2011 | adminfoker
article thumbnail

  Jayapura --- Program Mega Proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate/Lumbung Pangan dan Energi Terpadu Merauke) yangdicanangkan secara resmi oleh mantan Bupati Kabupaten Merauke, Papu [ ... ]


Polisi VS Pembela HAM
14/11/2011 | adminfoker
article thumbnail

  Jayapura – Sejumlah dokumentasi menyatakan polisi dalam menjalankan tugasnya, selalu melanggar hak-hak dasar orang yang seharusnya mereka layani dan lindungi. Pekerja Hak Asasi Manusia (HAM) jug [ ... ]


Carut Marut Aksi Mogok Freeport
14/11/2011 | adminfoker
article thumbnail

  Jayapura – Ironis, aksi mogok ratusan karyawan PT. Freeport Indonesia (PTFI) di Kabupaten Mimika, Papua yang berlangsung sejak 1 Juni – 15 September kemudian diperjanjang lagi hingga 15 Desemb [ ... ]


Partisipan Bulan Ini

Yayasan Mon Inin Kono (YAMIKO) Papua
25/05/2011 | officer
article thumbnail

Yayasan Mon Inin Kono (YAMIKO) Papua atau dengan nama lainnya “Lembaga Pemberdayaan Potensi Kearifan Masyarakat Lokal” adalah instisusi LSM Lokal Fakfak yang terbentuk atas adanya inisiatif dan ko [ ... ]


Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (eLPERA)
12/05/2011 | officer
article thumbnail

eLPERA (Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat)/People Economic Empowerment Institute adalah organisasi non pemerintah yang secara sadar memilih pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai entrypoint strategis d [ ... ]


Yayasan Sosial Pengembangan Kawasan Timur (YASOBAT)
13/04/2011 | officer
article thumbnail

Yasayan Sosial Pengembangan Kawasan Timur (The Foundation For Social Eastern Development) atau disingkay dengan YASOBAT.
Yasobat merupakan NGO dengan Akta Notaris A. M. Kasim Siruhu, SH. Nomor : 04 T [ ... ]


Hutan Bakau dan Kelompok Etnis di Papua PDF Print E-mail
Written by adminfoker   
Friday, 05 February 2010 22:17

Oleh Agustina Y.S. Arobaya*) dan Freddy Pattiselanno**)

Hutan bakau (mangrove) berperan sangat penting bagi kehidupan. Kawasan tanaman ini  berandil signifikan bagi  bagi penduduk di sekitar.   Hutan bakau memiliki beragam fungsi. Antara lain,  meng­hambat erosi pantai,  mengurai limbah organik, sebagai tempat pemijahan, engasuhan dan mencari  makan (spawning ground,nursery ground and feeding ground) berbagai jenis biota laut.
Hutan bakau menjadi  habitat berbagai jenis satwa,  penghasil kayu dan non kayu, serta  potensi ekoturisme.
Sebagai suatu kesatuan eksosistem dan pendukung komponen biotik, hutan bakau  juga bermanfaat, antara lain, sebagai lahan tambak, pertanian dan kolam garam,  arena pariwisata dan pendidikan,bahan baku kertas,  industri papan dan kayu lapis (plywood),  sumber kayu bakar dan arang.
Sekitar 52 jenis ikan, 61 jenis udang dan 54 jenis burung berasosiasi dengan bakau. Hutan bakau  pun sebagai tempat bersarang lebah madu.
Layaknya komunitas masyarakat lain di dalam dan sekitar hutan, beberapa suku di Papua sangat erat berintegrasi dengan hutan, termasuk kawasan hutan bakau.
Hubungan masyarakat dengan ekosistem sekitar diekspresikan melalui pemanfataan berbagai produk hutan untuk berbagai manfaat. Dalam era mo­dern sekarang kini pun, beberapa kelompok etnis di Papua, secara turun-temurun, masih bergantung erat pada sumberdaya hutan.  
Kelompok-kelompok  ini memanfaatkan hutan sebagai sumber pangan, bahan bangunan dan sumber energi,  obat tradisional, habitat hewan liar dan potensi wisata  ekologi.
Bruguiera gymnorhiza ada­lah jenis bakau  yang dimanfaatkan sejumlah suku sebagai sumber pangan. Suku Biak mengkonsumsi pati dari buah bakau ini sebagai sumber karbohidrat.
Kelompok etnis di Wondama  mengkonsumsi buah matang Bruguiera sp. Begitu pula suku Inanwatan di Sorong   meman­faatkan jenis A. alba, A. lanata, N. fruticans dan Sonneratia caseolaris. Jenis-jenis ini bisa langsung digunakan atau direbus (dibakar) dengan kelapa.  
Di daearah-daerah dataran tinggi, kayu hutan sudah lazim digunakan sebagai bahan bangunan.Sementara penduduk di wilayah pesisir, seperti etnis Biak, kayu  bakau menjadi bahan pengganti.
Etnis ini menggunakan bagian batang R. apiculata untuk  tiang rumah dan ranting sebagai bahan bakar.  Hal yang sama juga berlaku untuk spesies Sonneratia alba dan Xeriops tagal.
Di kalangan suku Inanwatan, bagian batang Avicenia lanata berfungsi sebagai badan perahu.
Jenis-jenis bakau yang juga bisa digunakan sebagai bahan bangunan,yakni batang Ceriops decandra, C. tagal dan Rhizopora mucronata.  Yakni, biasa digunakan sebagai tiang pagar, bahan  dinding rumah dan bahan pembuat perahu. Daun Nypha fruticans dianyam sebagai atap rumah.
Buah matang dari jenis B. Gymnorhiza tidak hanya untuk konsumsi, tetapi batang dan rantingnya digarap menjadi  peralatan rumah tangga, seperti dilakukan suku Wondama.
S. alba digunakan sebagai obat. Air rebusan dari kulit gerusannya  diminum untuk mengontrol kehamilan dan memperlancar persalinan. Sebagaimana, kelompok etnis Biak. Daun Rhizopora aty­losa yang merata di atas permukaan air digunakan  etnis ini untuk memperlancar  anak kecil belajar bicara.
Komunitas tertentu di Papua juga  memanfaatkan gerusan kulit atau akar bakau sebagai ramuan miuman keras  sebagai  stimulan bagi vitalitas kaum pria.
Di Sorong misalnya, etnis Inanwatan menggunakan sadapan buah N. fruticans dan akar muda R. apiculata untuk mencampur minuman. Dan buah R. mucronata sebagai  obat diare.
Jenis Rhizopora sp lazim digunakan sebagai bahan pencampur minuman keras oleh etnis Wondama. Bahkan Noor,dkk(1999) mengemukakan,   ada spesies bakau yang dapat diolah menjadi minuman beralkohol (Nypa fruticans) dan minuman fermentasi (R. stylosa).
Kawasan bakau tidak hanya memasok kebutuhan pangan dan papan pribumi Pa­pua.  Ia  juga  habitat biota laut/air, sumber protein (hewani), seperti ikan, udang, kerang, kepiting dan buaya.
Misalnya, Teluk Bintuni, salah satu kawasan bakau yang luas di daerah Kepala Burung.  Potensi biota laut yang melimpah di sini, tak sekadar   dimanfaatkan secara subsisten oleh komunitas lokal, tapi juga secara komersial oleh perusahaan perikanan.
Kawasan bakau Teluk menjadi “istana” udang putih komersial atau jerbung (Pena­eus merguiensis), udang ende (Metapenaeus mono­ceros), udang shima (Parapenaeopsis sculptilis) dan lobster.
Juga kakap air tawar (Protonibea diacanthus), kakap putih(Lates carecarifer), tenggiri totol (Scomberomus queenslandicus), kerapu lumpur (Epinephelus coioides), lasi (Scomberiodes sp.), alu-alu (Sphyraena sp.) dan bubara/kuwe (Caranx sp).
Kawasan hutan bakau di Sungai Mamberamo, merupakan habitat sejumlah burung seperti Raja udang kecil (Alcedo pusilla),  Raja udang biru langit (A. azurea), Cekakak pantai (Halcyon saurophaga), Kuntul kerbau (Egretta ibis), Kuntul kecil (E. Garzetta), Kakatua koki (Cacatua galerita), Kakatua raja (Probosciger atterimus) dan Kasturi kepala hitam (Lorius lorry).
Areal hutan bakau juga tempat bermukim jenis  Mangrove monitor (Varanus indicus) dan buaya air tawar (Crocodilus porosus) (Noor,  dkk, 1999).
Menurut Nontji (1987),  terdapat 35 spesies tanaman, 9 spesies perdu, 5 spesies hewan dan 29 spesies epifit dan parasit dalam kawasan hutan bakau di Indonesia.  Sejalan dengan peran eko­sistem kawasan bakau sebagi penyedia makanan biota, sekaligus pendaur serasah. Proses  yang melibatkan sejumlah besar organisme dan mikrorganisme yang mampu menciptakan iklim yang baik bagi kehidupan biota (Ridd et al., 1990). Satu potensi bakau di Papua yang belum dikelola optimal: pariwisata laut berbasis ekologi. Kendalanya: benturan kepentingan pihak-pihak terkait (stakeholder) dalam pengembangan kawasan.
Saat ini wisata alam  berkembang ke arah pola wisata ekologis  (ecotourism) dan wisata minat khusus (alternative tourism).Ini berarti, perlu diperhatikan aspek ekonomi, ekologi dan sosial masyarakat lokal.
Pengembangan wisata hutan bakau harus sepaket dengan pemberdayaan eko­­nomi rakyat di sekitar. Pengembangan dapat diarahkan aktivitas rekreatif, misal­nya, pada memancing, bird watching dan fotografi.
Potensi lain kawasan bakau di Papua yang belum  dikelola optimal adalah pariwisata laut.   Pengelolaanya terkendala benturan kepentingan (conflict of interest) pihak-pihak terkait (stakeholder) dalam pengembangan kawasan.
Pengembangan wisata  hutan bakau harus satu paket dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan bakau. Pe­ngem­bangan lebih diarahkan, misalnya, pada aktivitas memancing, bird watching dan fotografi.
Pemerintah daerah  bisa menggandeng pengembang swasta dan masyarakat setempat. Konsep pengelolaan berwawasan lingkungan sudah pasti tidak bisa dikesampingkan di sini.

*)Peneliti pada Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati, Universitas Negeri Papua, Manokwari dan **)dosen Program Studi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan, Universitas Negeri Papua.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free Joomla PHP extensions, software, information and tutorials.